<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906</atom:id><lastBuildDate>Tue, 20 Mar 2012 05:44:17 +0000</lastBuildDate><category>Pilkada</category><category>Pemilu</category><category>Banten</category><category>Kekuasaan</category><category>Politik</category><category>Isu</category><category>Konflik</category><category>Rakyat</category><category>Contact Us</category><category>Cilegon</category><category>Pemimpin Cerdas</category><category>About Me</category><category>Gender</category><category>Pembangunan</category><category>Agama</category><category>Demokrasi</category><category>Kongres Rakyat Cilegon</category><category>KRC</category><category>Perempuan</category><category>Pencitraan</category><category>Sitemap</category><title>Sosio Banten</title><description>"memanusiakan manusia"</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906.post-4952332192033147253</guid><pubDate>Fri, 29 Oct 2010 05:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-10-29T12:55:20.477+07:00</atom:updated><title>NEOLIBERALISME DI CILEGON</title><description>&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Asep Koswara&lt;strong&gt;[Kabar Banten Edisi 27/10/2010]&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Neoliberalisme merupakan filosofi yang lahir pada abad 20-an. Prinsip  pokok dari neoliberalisme adalah pasar dan perdagangan bebas.  Neoliberalisme memandang bahwa kapitalisme dapat ditandai dengan adanya  pasar, tanpa pasar tidak ada kapitalisme. Keyakinannya, bahwa pasar  merupakan  sebuah ruang fisik atau ruang bagi orang-orang yang akan  menjual atau menukarkan  sesuatu. Meminjam pemikirannya Peter L. Berger,  (1986:19) bahwa kapitalis neoliberal merupakan kegiatan produksi yang  diorientasikan untuk kepentingan pasar dan dilakukan oleh individu atau  bersama-sama dengan tujuan memperoleh laba sebanyak-banyakya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Di  Indonesia paham ekonomi neoliberal semakin hari bertambah subur pasca  kejatuhan Soeharto, masifikasi neoliberalisme tidak terbendung dimana  lembaga donor yang dimotori oleh IMF dan Bank Dunia intervensi langsung  dengan mengeluarkan kebijakan makro ekonomi dan reformasi structural  yang meliputi perdagangan luar negeri, deregulasi, privatisasi dan  banyaknya investasi  dan perusahaan asing yang menguasai asset-aset  nasional. Kebijakan-kebijakan neoliberalisme terus berlanjut menguasai  setiap denyut perekonomian Indonesia. Bagimana tidak, bangsa Indonesia    sampai pada pemerintahan sekarang sangat sulit untuk tidak mengambil  kebijakan publik yang berlawanan dengan Neoliberalisme Tak heran jika  ada beberapa pengamat ekonomi nasional yang meramalkan bahwa di era  pemerintahan SBY, neoliberalisme tengah memasuki masa kejayaannya di  Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;Mencengkram Cilegon&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akhir-akhir  ini masyarakat Cilegon di gegerkan dengan rencana PT Krakatau Steel  (KS) yang akan membangun pabrik  baja hasil kerja sama dengan Korea  Pohang Iron and Steel Corporation (Posco). Meskipun rencana tersebut  banyak ditolak oleh masyarakat karena  akan menggunakan lahan kubangsari  yang oleh pemda akan di proyeksikan untuk pembangunan pelabuhan  Cilegon. Namun KS tidak mengendurkan niatnya dengan dalih telah  mengantongi izin penggunaan lahan dan memperoleh dukungan dari presiden,  triakan dan aspirasi masyarakat setempat dianggap angin lalu. Setali  tiga uang meskipun masyarakat cilegon menggelar protes kepada pihak yang  terkait di Jakarta. Namun tidak sedikitpun mendapat sinyal positif yang  jelas kabar kekecewaan yang didapat, pada waktu dekat pembangunan  pabrik akan segera dilaksanakan dengan mengundang wapres yang beberapa  waktu lalu santer diberitakan pro neolib. Semakin menegasikan bahwa   neoliberalisme kini mencengkram Cilegon.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Agenda ekonomi  liberaldi Cilegon menurut hemat penulis bukan sesuatu yang aneh karena  dari beberapa tahun sebelumnya juga memang KS pernah di gadang-gadang  akan di privatisasi. Terlebih melihat Kota Cilegon memiliki daya tarik  tersendiri  bagi para investor  perusahaan multinasional (MNC) untuk  menanam sahamnya diberbagai perusahaan di Cilegon. Secara kuantitatif  modal asing yang masuk ke Cilegon pada tahun 2005 tersebar di 71  perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha  logam, kimia dan jasa  dengan total Nilai Investasi US,$249,341,849,743 (Deperindag 2005).  Bahkan pada Tahun 2008 tercatat penanaman modal asing (PMA) yang masuk  ke Cilegon sebesar Rp 61,4 triliun, sedang untuk PMDN sebesar Rp 15,8  triliun. Fakta ini  membuktikan bahwa Kota Cilegon masih menjadi pusat  ekspansi perusahaan asing.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Jika merujuk pada   pemikirannya   Puji Rianto, (2006:71) Munculnya  perusahaan –  perusahaan Asing di Indonesia termasuk gencarnya penanaman modal asing   di Kota Cilegon   bukan semata-mata hanya  tujuan ekspansi  MNC  akan  tetapi konsolidasi  sehingga menjadi kekuatan yang hegemonic yang total  kekayaan mereka melebihi GNP beberapa Negara di dunia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Lantas  apa keuntungan yang dirasakan oleh masyarakat sekitar dimana perusahaan  asing beroprasi. Sejahterakah, penganggurankah, kerusakan lingkungan  kah. Menurut hemat penulis  ekonomi neoliberal hanya akan melahirkan  ketimpangan social. Merujuk fakta dilapangan eksistensinya lebih  menguntungkan kapitalisme global. Perusahaan dimana mayoritas sahamnya  dikuasai asing akan melahirkan ketimpangan antara perusahaan dan  lingkungan dimana perusahaan beroprasi.  logikanya adalah hanya untung  dan untung padahal masyarakat setempat terutama yang berada di zona  merah setiap hari merasakan polusi yang disebabkan oleh perusahaan.  Meskipun memang ada beberapa program dana atau sifatnya santunan social  yang diberikan perusahan namun itu kurang begitu tepat sasaran entah  dimana nyangkutnya, yang pasti kontribusi kongkrit masih perlu  ditingkatkan. Jika perusahaan tidak ingin disebut  neoliberal yang hanya  pro pasar dan membela kepentingan asing.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Oleh karenanya  jika Posco beroprasi  yang digadang-gadang akan banyak menyerap ribuan  tenaga kerja dan sekitar  70% akan diambil dari daerah setempat harus  benar-benar dibuktikan. Meskipun penulis sedikit meragukan akan  keseriusan janji tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  Argumentasinya adalah  KS yang  memiliki saham minoritas sekitar 30% akan kesulitan untuk mengambil  langkah-langkah setrategis.KS tidak akan berani mengambil langkah yang  berlawanan dengan kebijakan pemodal. Apalagi tersiar kabar bahwa jajaran  direksi, komisaris sampai presiden direktur lebih banyak di kuasai oleh  perwakilan Posco.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Asumsi dasarnya dengan posisi KS yang kurang  berdaya dapat dipastikan kebijakan pro rakyat local diragukan.  Dalam  logika ekonomi sudah pasti pemilik saham mayoritas yang memiliki  keleluasaan mengontrol perusahaan. Meminjam pemikiran Yoshihara Kunio  (1990: 7-8)  jika capital berasal dari perusahaan asing, maka perusahaan  dimana tempat perusahaan domisili tidak akan mempunyai kewenagan  apapun. Karena  tim manajemen diatur oleh investor yang kemudian  melakukan control manajemen  melalui kepemilikan saham.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;Ketimpangan Sosial&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Banyaknya  perusahaan asing yang menginvestasikan sahamnya di Kota Cilegon merujuk  fakta dilapangan eksistensinya lebih menguntungkan kapitalisme global.  Sedangkan manfaat bagi lingkungan dimana prusahaan berdomisili  frekwensinya sedikit. Justru munculnya perusahaan tersebut melahirkan  ketimpangan antara perusahaan dan lingkungan dimana perusahaan  beroprasi. lebih jauh Lihat saja dari fakta di lapangan bahwa perusahaan  seringkali kurang mementingkan kearifan local. logikanya adalah hanya  untung dan untung padahal masyarakat setempat terutama yang berada di  zona merah setiap hari merasakan polusi yang disebabkan oleh perusahaan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Pengaruh  negatif dari perusahan adalah dengan munculnya pencemaran lingkungan  dengan membawa bau busuk dan membuat air menjadi tidah bersih hal ini  diakibatkan  oleh limbah pabrik. Realitas demikian menggambarkan bahwa   perusahaan- perusahaan asing sesungguhnya hanya mengejar nilai bisnis,  dan dalam hal ini perusahaan menerapkan kebijakan untuk menekan biaya  produksi seefisien mungkin. Dalam logika kapitalis  untuk menekan biaya  produksi dan  perusahaan agar tidak  rugi maka perusahaan menempuh  jalan  dengan cara menempatkan bahan baku dan komponen yang dapat   didaur ulang. Bukan fiktip perusahaan industri di Kota Cilegon  keuntungannya lebih banyak  dinikmati perusahaan multinasional   (investor ).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Dalam konteks ini mungkin saja tidak  sepenuhnya kesalahan perusahaan jika pemerintah membuat dan menjalankan  regulasi yang tepat maka danpak negative perusahaan seperti ketimpangan  social, ketimpangan ekonomi dan kerusakan lingkungan dapat  diminimalisir. Karl Polanyi mengingatkan jika mekanisme pasar menjadi  satu-satunya pengatur nasib  manusia dan lingkungan alam, bahkan  satu-satunya pengatur nilai dan kegunaan daya beli akan  “meluluhlantahkan” masyarakat. Dengan kata lain dia menyatakan jika  mekanisme pasar berkembang menurut hukumnya sendiri, dia akan  menciptakan keburukan-keburukan yang maha dahsyat. (Polanyi,  2003:178-179)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Paparan di atas sesungguhnya boleh jadi  merupakan suatu bentuk keprihatinan masyarakat secara umum yang tidak  menikmati  dari sejumlah operasi perindustrian di Kota Cilegon.  Sekaligus ungkapan kekecewaan terhadap sekelompok minoritas, yang dapat  menikmatinya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika saja ketimpangan diatas ditanyakan pada pihak  perusahaan pasti akan membantah sekeras-kerasnya, dengan dalih pihak  perusahaan telah membayar pajak, telah terlibat dalam program &lt;em&gt;Community Development&lt;/em&gt; yang disepakati bersama dengan pemerintah daerah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Lantas  pertanyaannya dimana letak kontribusi kongkrit perusahaan terhadap  masyarakat lokal. Apa cukup dengan jawaban bahwa dampak positf  perusahaan asing dapat menambah PAD cilegon, atau adanya perusahaan  asing memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. Yang pasti  kenyataaanya masyarakat sekitar dimana perusahaan asing berkuasa masih  mengalami kesenjangan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;[1] Penulis Adalah&lt;strong&gt;: Dosen Sosiologi Politik dan Ketua Presidium Cilegon Developmen Care(CIDAR)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1779863485875447906-4952332192033147253?l=www.sosiobanten.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/2010/10/neoliberalisme-di-cilegon.html</link><author>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906.post-6322697161258233931</guid><pubDate>Fri, 01 Jan 2010 04:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-03T19:34:46.940+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Pemilu</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Agama</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Demokrasi</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Cilegon</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Banten</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Pilkada</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Kekuasaan</category><title>Agama dan Kekuasaan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesta demokrasi sedang kita jelang dan rayakan, yakni pemilihan umum kepala daerah secara langsung. Tentunya ada segudang asa dan harapan untuk perbaikan daerah ke depan, terlebih memperbaiki kualitas demokrasi dan melanjutkan proses pembangunan untuk meningkatkan  kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat ada bebepa daerah dipropinsi banten yang akan menggelar pemilukada dalam waktu dekat yakni  Kota Cilegon, Kabupaten Serang dan Pandeglang. Dari dinamika ini ada yang menarik untuk menjadi bahan diskusi yakni diskursus agama dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya  setiap kali menjelang Pemilu isu agama seringkali menjadi menu “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;propaganda&lt;/span&gt;” jitu bagi  kandidat atau partai politik untuk mendongkrak popularitas dan suara. Namun ketika pemilu telah usai, “agama”  seringkali disingkirkan dalam percaturan politik, tak ada lagi kegiatan keagamaan yang meriah, tak ada lagi iring-iringan pejabat ke tempat keagamaan, tak ada lagi gembar-gembor sumbangan, yang muncul adalah perebutan jatah dan menuntut fasilitas mewah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di Banten penggunaan simbol-simbol keagamaan cukup memiliki ruang yang besar, disadari atau tidak  Banten merupakan daerah yang memiliki emosi dan tradisi yang sangat kuat dalam hal keberagamaan. Apalagi dalam konteks sejarah,  Banten pernah mengalami kejayaan dibawah kesultanan. Namun yang perlu dikritisi saat ini, Apakah betul penggunaan symbol-simbol agama merupakan cermin dari kesolehan dan kesadaran keberagamaan individu. Atau sebaliknya hanya topeng untuk mencari legitimasi kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga asumsi di atas tidak terjadi di pemilukada mendatang. Namun jika menengok kebelakang cara-cara seperti ini modus lama yang dipraktekan para elit politik nasional menjelang PEMILU pada rezim orde Baru. Mereka berpandangan bahwa dalam dunia politik  “boleh salah asal menang” boleh ada dusta hitam, dan boleh ada dusta putih dan boleh  pula seorang kandidiat atau  partai politik memanfaatkan simpul-simpul massa agama sebagai alat legitimasi politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Korelasi  Agama dan Kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fenomena keterlibatan agama dalam politik memang sangat kelasik bukan hanya di negeri kita bahkan di negara-negara besar dunia. Agama dan politik menjadi isu yang sangat menarik untuk dicermati. Pemaparan mendalam atas kasus ini dapat ditelaah dengan meminjam uraian Muhammad Said al-Asymawi dalam Al-Islam al-Siyasi (1987) menulis: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;arâdallâhu li al-Islami an yakuna dinan, wa arada bihi al-nâs an yakûna siyâsatan&lt;/span&gt;” ( Allah menghendaki Islam menjadi agama, tapi manusia menghendakinya menjadi kekuatan politik). Agama punya tujuan universal berjangka panjang,  sedang politik berdimensi pendek, partikular dan terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir penulis atas pemikiran Muhamad Said al-Asmawi  Agama merupakan sumber kekuatan supranatural yang berfungsi sebagai  pengendali kehidupan   berpolitik. Agama bukan lah alat untuk mendongkrak populeritas, dan agama bukan pula pakaian agar dianggap alim dan saleh. Tapi agama sebagai "sumber etika moral" yang senantiasa memberikan tawaran dan pencerahan yang komprehenshif atas segala persolan hidup manusia, termasuk dalam konteks kenegaraan yang terkait dengan kekuasaan berjangka pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benang merah antara agama dengan kekuasaan terletak pada kekuatan nilai yang mendukung pelaku politik untuk  mengindahkan kaidah-kaidah moralitas dan menghindari politik menghalalkan segala cara. Namun jika  agama dibawa ke ranah politik  yang bersifat symbol dan  atribut  formal. Maka hal itu masuk pada wilayah politisasi agama,  dan sebaiknya tidak perlu  terjadi, karena agama memiliki social capital yang signifikan untuk menampilkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Stop Politisasi Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Politisasi agama merupakan penafikan terhadap nilai teks-teks suci agama dan bentuk penundukan Agama dibawah kekuasaan politik. Artinya agama direduksi dan dijadikan alat legitimasi politik untuk merebut kekuasaan dalam pemilu. Kenyataannya dapat dilihat dari  berbagai  bentuk properti maupun ikon keagamaan, yang dikemas dengan menggunakan “bahasa dan simbol agama”. Realitas seperti ini  merupakan distorsi yang akan membajak dan menjebak agama tunduk pada area kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelaku politik Jangan lagi  menggunakan agama sebagai alat legitimasi kekuasaan, apalagi mempolitisasinya untuk tujuan jangka pendek. Jika saja para elit politik masih menempatkan agama sebagai arena pertarungan politis, hal ini alamat celaka bagi kelangsungan hidup agama dan keberagaman kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama seharusnya ditempatkan sebagai kekuatan nilai  moral yang mendukung seluruh kehidupan manusia dalam berbagai urusan, termasuk dalam berpolitik. Hanya dengan itu, agama akan terasa berperan secara signifikan sebagai proses mewujudkan keadilan kemajuan dan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relevan dengan pemikiran Dale F. Eickelmen dan yang menguraikan praktik politik dalam hal seni bernegosiasi dalam mewujudkan “tatanan sosial”  yang baik dan tepat, perlu  ditopang oleh budaya dan prilaku sehat yang bersendikan moralitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian memaknai relevansi agama dan kekuasaan, nilai-nilai moral menggugat para politisi untuk berpolitik santun dan tidak lagi menggunakan  simbol-simbol agama untuk kepentingan kekuasaan. Karena daerah yang maju dan demokratis  akan selalu ditandai dengan sikap politik yang saling percaya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(political trush)&lt;/span&gt; dan kesantunan berpolitik antar masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1779863485875447906-6322697161258233931?l=www.sosiobanten.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/2010/01/agama-dan-kekuasaan-olehasep-koswara.html</link><author>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906.post-3938172446415461650</guid><pubDate>Mon, 28 Dec 2009 06:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-28T17:11:48.458+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Isu</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Perempuan</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Gender</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Banten</category><title>Banten dan Isu Gender(Kado Buat Perempuan Banten)</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lahirnya provinsi Banten yang dikukuhkan oleh Undang-undang N0. 23 tahun 2000, merupakan bentuk nyata dari satu perjuangan panjang masyarakat Banten yang memiliki komitmen kuat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dulu Banten pernah mencapai kejayayaan dibawah kesultanan Banten Kenapa tidak, Banten kini bisa makmur dibawah kepemimpinan “ Ratu Atut Ckhosiah”. Terlepas banyak dan sedikitnya, masalah social ekonomi dan politik yang dihadapi oleh warga Banten, setidaknya rasa optimis perlu dipelihara untuk memacu ketertinggalan dibanding dengan daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak bermaksud untuk membandingkan dulu dan kini, selain setting social pilitik dan budayanya berbeda, perlu diyakini bahwa seorang pemimpin adalah orang yang terbaik dimasanya. Oleh karenanya tidak ada salahnya jika kita belajar dari sejarah, agar sang pemimpin dapat berpijak pada konteks kekinian dan “berpetualang” menjelajahi alam yang belum disentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya belajar pada sejarah merupakan suatu hal penting bagi warga Banten, bukan hanya korelasinya dengan etnisitas Banten, akan tetapi ada yang jauh lebih bermakna dalam sejarah Banten yakni nilai-nilai kearifan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja bagi sebagaian kalangan atau beberapa orang sedikit terhentak melihat perubahan social yang tengah melingkupi masyarakat Banten. Bahkan ada yang berpendapat bahwa Banten belum bisa merdeka dari kemiskinan, pengangguran buta aksara,kumbuh dan ada juga yang sangat tega mengatakan SDM-nya rendah.Namun masyarakat banten memiliki kesadaran penuh untuk berani berharap dan menggantungkan asanya pada kepemimpinan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jka dirunut pada konteks isu jender di kita sangat sensitive. Berbicara perempuan sama saja dengan berbicara doktrin agama. Tengok saja ketika Indonesia mengadakan pemilu untuk memilih wakil rakyat, dan presiden ke-4, Ketika itu nama Megawati merupakan kandidat perempuan satu-satunya utuk duduk di kursi ke-presidenan. Apa yang terjadi banyak pihak yang tidak setuju (presiden perempuan) kala itu dengan alasan Islam tidak menerima kepemimpinan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya di Banten meskipun masyarakatnya dianggap pendidikannya rendah, dan mayoritas warganya beragama Islam tetapi tidak ada satupun yang muncul kepermukaan mengatakan ketidaksetujuaannya terhadap kepemimpinan perempuan di Banten apalagi sampai mempolitisasi Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini kecerdasan dan kearifan masyarakat Banten sekaligus membantah pendapat orang yang selama ini mengatakan bahwa masyarakat Banten merasa berat beradaptasi dengan perubahan social dan ekonomi yang terjadi disekelilingnya. Realitas ini menegaskan bahwa ukuran tradisional atau modern bukan hanya saja terletak pada ruang dan yang melingkupinya tetapi kita harus memaknainya secara esensial yakni fungsinya dalam konteks historis regional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eklusi terhadap Perempuan Banten&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masalah perempuan sampai saat ini masih menjadi diskursus yang tak kunjung usai, selain karena terus mengalami perkembangan, juga banyak persoalan perempuan yang tidak pernah habis kehadirannya dimuka bumi ini. Hal ini sangat tampak ketika membicarakan rendahnya sumberdaya perempuan, maraknya kekerasan terhadap perempuan baik diranah public atau di sector lainnya.Tentunya situasi ini harus mendapat perhatian serius dari stakeholder dan terlebih dari perempuan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak studi membuktikan bahwa bidang-bidang kehidupan perempuan mengalami subordinasi, diskriminasi, marginalisasi dan ekploitasi. Sehingga perempuan tersingkir ke sektor domestic yang sesuai dengan strotpe gendernya, yang tidak membutuhkan keterampilan tinggi dan berupah rendah, seperti sector jasa, adminitative dan buruh pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas ini terlihat dari data Tahun 2002 jumlah penduduk provinsi Banten yang berjenis kelamin perempuan sekitar 4.018.000 (49,62%) dan laki-laki 4.079.000 (50,38%). Bila kita membandingkan peran dan partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi dipropinsi Banten sangat tertinggal jauh jika dibandingkan dengan laki-laki. Kesimpulan ini diambil dari tingkat jumlah angkatan kerja perempuan (47,88%) yang jauh lebih kecil dari laki-laki (67,83%). Misalnya dibidang pertanian, perempuan berkisar pada angka (9,53%) sedangkan laki-laki (16,29%). Di bidang industri, jumlah pekerja perempuan (6,23%) lebih sedikit dibandingkan laki-laki yang mencapai angka 12.83%. dibidang jasa-jasa perempuan hanya (21,02%) sedangkan laki-laki (34,11%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data diatas menunjukan bahwa perempuan masih termarjinalkan, dan perempuan hanya dimanfaatkan sebagai sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja (demi kepentingan ekonomi negara), bukan untuk kepentingan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Oleh karenanya seiring dengan perjalanan pembangunan yang sarat dengan perubahan mendasar, menjadi sebuah peluang dan harapan besar bagi pengembangan potensi dan pemberdayaan perempuan di Banten. Terlebih Banten kini dipimpin oleh perempuan. (Bersambung...Wassalam)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1779863485875447906-3938172446415461650?l=www.sosiobanten.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/2009/12/banten-dan-isu-genderkado-buat.html</link><author>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906.post-2958899598776435964</guid><pubDate>Sun, 27 Dec 2009 03:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-31T07:43:47.390+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Politik</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Pencitraan</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Kongres Rakyat Cilegon</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>KRC</category><title>KRC dan Politik Pencitraan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;William Liddle, ahli sosiologi politik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(social political scientist)&lt;/span&gt; dari Ohio University, pernah meramalkan bahwa era politik sekarang adalah era politik ketokohan. Tidak lagi diramaikan oleh pertarungan ideologi atau politik aliran, seperti diasumsikan oleh teori antropolog terkenal Clifford Geertz (1964), (Kompas, 7 Juli 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan diatas dikukuhkan oleh Sejumlah pengamat dan ahli komunikasi massa yang meyakini bahwa kemenangan SBY dalam Pilpres 2004 dan 2009, tak lepas dari suksesnya tim kampanye SBY yang berhasil membangun dan mempertahankan citra SBY sebagai figur pemimpin yang ”santun”, ”berwibawa”, ”menyejukan”, ”tokoh penuh pengharapan” atau ”pengayom rakyat kecil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena SBY dengan politik pencitraannya, telah menjadi inspirasi dan refrensi Iman Aryadi sebagai kadidat walikota Cilegon dalam perebutan kekuasaan di pilkada mendatang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dapat dilihat dari pasca deklarasi pencalolannya di musda golkar tahun lalu, politik pencitraan terus dijalankan oleh Iman Aryadi. Meskipun waktu itu golkar mengalami gempa politik yang melahirkan konflik antara Syam Rahmat dan Ketua DPD Golkar Cilegon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Iman Aryadi melakukan langkah-langkah politik “simbolis” yang mencitrakan dirinya sebagai tokoh pemimpin muda masa depan yang “cerdas”, “ramah”, pro pembangunan dan dekat dengan ulama. Pencitraan itu bertujuan untuk menghasilkan persepsi masyarakat Cilegon bahwa Iman Aryadi adalah satu-satunya Kandidat Walikota Cilegon masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KRC dan Pencitraan Rasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kongres Rakyat Cilegon yang diselenggrakan pada tanggal 28 dan 29 oktober merupakan media pencitraan Iman Aryadi sebagai Calon walikota masa depan yang merefresentasikan kebangkitan kepemimpinan muda di Cilegon. Dikontruksi untuk menjalin komunikasi politik atau hubungan antara seorang aktor politik dengan calon pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ini diciptakan untuk menjalin hubungan transaksional yang rasional. Asumsinya tergambar dari agenda acara kongres, yang menghadirkan narasumber top nasional, Kemudian acara intinya adalah sesi pemaparan visi dan misi calon walikota Cilegon. Tentunya tidak dapat disangkal lagi bahwa KRC sebagai media pencitraan seorang calon walikota yang ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat Cilegon khusunya, dan Nasional pada umumnya bahwa dirinya merupakan calon pemimpin masa depan yang cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini dirangkai secara terencana dan terarah untuk pemilih rasional yang dianggapnya tidak begitu saja percaya terhadap program, janji-janji seorang kandidat atau iming-iming materi yang ditawarkan. Karena dalam segmen pemilih rasional program yang tidak rasional, atau terkesan hanya untuk menyenangkan pemilih, akan ditolak secara mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pemilih rasional dukungan politik yang diberikan pemilih kepada kandidat semata-mata karena kandidat dinilai memiliki kompetensi dan kapasitas sebagai aktor politik. Karena itu politik pencitraan seorang aktor politik sangat tergantung dari sejauhmana visi dan misi politik yang disusun dapat meyakinkan pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halalnya Politik Pencitraan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam literatur ilmu politik, pencitraan politik atau politik pencitraan sangat “dihalalkan”, dan lumrah adanya. Apalagi dalam konteks reformasi dan demokrasi pencitraan politik telah menjadi bagian yang tidak tak terpisahkan dari pentas politik negeri ini. Menurut para ahli marketing politik citra seseorang dapat diciptakan, dibangun dan diperkuat melalui proses pencitraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya dalam konteks ini, pencitraan adalah sesuatu yang wajar bahkan mungkin harus dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan, tetapi setelah itu yang paling terpenting adalah bagaimana menunjukkan kualitas yang sesungguhnya sehingga yang dihargai adalah kualitas dan integritas pribadi yang berprestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan bahwa politik pencitraan sangat tidak mungkin dipisahkan dari praktek politik dalam pilkada untuk memilih kandidat Walikota Cilegon 2010 mendatang. Namun benang merahnya adalah pencitraan yang dikontruksi oleh kandidat, dilakukan dengan bertolak pada prinsip “napak kebumi” bukan “menggantung ke langit”. Artinya para calon walikota Cilegon mendatang diharapkan lebih bijak melihat rakyat sebagai penerima pesan, simbol, dan program yang dicitrakan oleh Cawalkot. Bukan semata-mata dipandang sebagai entitas politik yang bisa di eksploitasi seperti kerbau yang di cocok hidungnya. Rakyat Cilegon sudah pintar dan mampu untuk berfikir rasional. Meskipun tidak sedikit pula yang masih akrab dengan simbol kemapanan, agama, dan atau nilai-nilai primordial lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dari calon walikota dan tim suksesnya, Tidak ada salahnya jika setiap politik pencitraan yang dilakukan bermuara guna meciptakan transaksi politik dengan rakyat Cilegon secara rasional. Bukan sebaliknya mengkontruksi politik pencitraan negatif dengan menjual dan membodohi rakyat dengan janji-janji irasonal dan mengekploitasi sisi emosional rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya adalah politik pencitraan adalah sangat boleh karena pada dasarnya politik pencitraan bertujuan membangun dan mecerminkan realitas keseharian sang kandidat. Jika memang dalam kesehariannya kandidat adalah tokoh yang cerdas, pro pembangunan, religius maka selayaknya tim sukses memperkuat dan meneguhkan citra kandidat dengan berbagai media, termasuk Kongres rakyat Cilegon (KRC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup mari bangun politik pencitraan di pilkada mendatang dengan cerdas dan santun. Untuk mendewasakan masyarakat, dan bukan sebaliknya mengakali atau mengiconi masyarakat. Wassalam &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(tulisan ini terbit di Baraya Post edisi Kamis 5 november 2009)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1779863485875447906-2958899598776435964?l=www.sosiobanten.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/2009/12/krc-dan-politik-pencitraan.html</link><author>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906.post-821288323084385914</guid><pubDate>Fri, 25 Dec 2009 02:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-31T07:44:06.089+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Politik</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Konflik</category><title>Konflik dan Kesantunan Politik</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hiruk pikuk politik di Banten khususnya di Cilegon, akhir-akhir ini sangat menarik untuk di perbincangkan. Apalagi jika merangkai aktivitas dan prilaku para elit politik lokal yang asyik mempertontonkan manuver politiknya, menghiasi wajah dinamika masyarakat bagai selebritis yang baru naik daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Berbagai macam isu dan sensasi politik seolah tak ada habisnya di ciptakan agar menjadi komoditi berita dan menjadi wacana publik dengan harapan dapat membantu popularitas dan pecitraan politik secara gratis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; " Ganyang Fira’un”” misalnya, beberapa hari kebelakang menjadi isu aktual yang membuat “geger” masyarakat di kota Cilegon. Padahal jika dicermati secara cerdik pernyataan tersebut kalau tidak ditanggapi berlebihan sama sekali tidak akan berdampak serius. Justru sebaliknya semakin dibesar-besarkan maka popularitas dan pesan –pesan politik yg ada dalam rangkaian CD “ganyang fira’un” akan memancing orang untuk bertanya dan mencari untuk memenuhi rasa keingintahuannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konflik antar elit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Isu “” ganyang Firaun”” meningkatkan suhu politik di Cilegon semakin memanas, rangkaian kegiatan yang bernuansa politik bergulir dan bermuara pada konflik elit politik local. Para elit lokal cenderung mengabaikan kesantunan dalalam berpolitk justru mengutamakan emosi, dan kepentingan kelompok. Akibatnya muncul isu penyerangan pada pribadi antar elit dengan menyerempet pada pembunuhan karakter.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Konflik antar elit local tersebut menurut hemat penulis lebih disebabkan pada pemaknaan politik yang ditafsirkan oleh para elit sebagai upaya perebutan kekuasaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;( struggle of power).&lt;/span&gt; Dan Kekuasaan politik di pergunakan untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya. Hal ini dapat terjadi dikarenakan minimnya pendidikan politik santun di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Dalam literatur ilmu politik, memang banyak ragam dan pendapat tentang arti politik. Namun yang paling akrab, di masyarakat “Politik sering diidentikkan dengan kekejaman dan kekotoran”. Citra negatif politik ini sangat berkaitan erat dengan prilaku elit politik dalam perebutan kekuasaan yang dalam konteks kekinian di pertontonkan dengan cara yang kurang elegan dan santun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Pernyataan “Ganyang Firaun”” sesungguhnya ungkapan biasa jika di tempatkan dan di terima pada situasi biasa. Namun menjadi luar biasa dan seolah aneh jika masuk pada ranah politik yang tingkat sensitifitasnya tinggi, terlebih diawali dengan kalimat-kalimat pengantar yang mengkritisi kepemimpinan yang tengah berkuasa. Tentunya sangat wajar jika pernyataan tersebut mengundang tanggapan beragam dari masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat penulis biarkanlah fenomena itu berkembang, sebagai bagian dari dinamika politik lokal yang tengah belajar demokrasi. Namun tetap kesantunan adalah keniscyaan yang mesti menjadi sandaran tingkah laku dalam berpolitik. Sebab, dalam politik perbedaan adalah hal yang lumrah. Akan tetapi memaknai perbedaan tanpa memahami makna kandungan aplikasinya justru akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Politik Santun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Rangkaian kegiatan yang bernuansa persaingan, perlu diakui sering kali ditandai dengan prilaku yang kurang santun. Meng¬eksploitasi ke¬le¬mahan lawan, men¬cela, dan saling menjatuhkan. Itulah politik, yang menurut Harold Lasswell (1972) hanyalah siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Dalam konteks politik, perkawanan hanya bisa dirajut sepanjang ada persamaan kepentingan. Pada saat berbeda kepentingan kawan akan berbalik menjadi lawan. Maka tak salah jika ada yang mengatakan, dalam politik tak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Mencermati fenomena politik yang semata-mata berlandaskan pada kepentingan pragmatis, adakah harapan akan prilaku politik elit lokal yang didasarkan pada fatsoen (tatakrama) sehingga makna politik yang sejatinya sangat positif itu tidak menjadi negatif. Tentunya kita sebagai entitas budaya, politik sangat membutuhkan fatsoen yang menuntut ketaatan para politikus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Socrates menjelaskan bahwa politik adalah martabat dan harga diri sehingga dalam berpolitik seseorang harus memiliki keutamaan moral. Prakteknya, politik adalah ilmu dan seni yang berorientasi pada upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Jadi, manakala kepentingan masyarakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat terabaikan maka sesungguhnya hal ini telah menodai politik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Kesantunan politik adalah suatu hal yang penting dan patut dijadikan sandaran dalam berpolitik. Sebab, kesantunan akan menuntun seseorang untuk menghargai arti sebuah perbedaan. Kesantunan akan membimbing makna sebuah komitmen.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Dapat dibayangkan jika kepentingan politik yang dilanggengkan itu menubruk rambu-rambu dan menabrak susila kehidupan bermasyarakat. Yang kemudian perilaku elit politik tidak mengedepankan kesantunan, maka adegan yang memalukan pun akan terjadi saling hujat bukanlah sebuah kesalahan, perang kata-kata berujung pada adu fisik sepertinya menjadi hal yang biasa, atau saling oncog dan saling klaim dengan mengusung nama kepedulian menjadi identitas yang bermuara pada egosentris.&lt;br /&gt;Realitas ini merupakan cermin dinamika politik kita, meskipun hanya  ditampilkan oleh segelintir elit saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Namun kalu tidak segera dibenahi akan melahirkan (dis trush) atau mosi tidak percaya rakyat terhadap politisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Oleh karenanya politik santun dan kesantunan dalam berpolitik perlu di realisasikan bukan sekadar gincu atau wacana. Ini perlu segera diwujudkan dengan niatan yang tulus untuk mempraktekan politik yang bermoral dalam bingkai kesungguhan hati dan keberanian untuk memulai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Jika saja politik santun ini di implementasikan dalam kehidupan berpolitik, maka para elit politik akan mejadi tuntunan bagi masyarakat. Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa budaya politik masyarakat kita masih bersifat patron-clien. Artinya, bahwa elit politik adalah contoh teladan bagi pengikutnya (masyarakatnya). Dalam bahasa psikologi elit politik menjadi model bagi masyarakatnya. Jika elit politiknya tidak layak untuk diteladani lantas masyarakat mencontoh sama siapa?..(Tulisan ini dimuat di Banten Raya Post Edisi 11 November 2009)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1779863485875447906-821288323084385914?l=www.sosiobanten.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/2009/12/konflik-dan-kesantunan-politik.html</link><author>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906.post-119847229706523044</guid><pubDate>Thu, 24 Dec 2009 02:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-31T07:44:24.021+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Rakyat</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Pembangunan</category><title>Pembangunan Untuk Rakyat</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keputusan Walikota Cilegon mengenai pembatalan program penyertaan modal dari PNS untuk pembangunan pelabuhan kubang sari. Menurut hemat penulis sangat tepat dan bijaksana. Bagaimana tidak, dilihat dari aspek etis dan politis pemotongan gaji tunjangan PNS sangatlah tidak populer dimata rakyat. Dan jika terus dipaksakan akan melahirkan gejolak di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Kejadian ini seyogyanya menjadi perhatian semua pihak, bukan hanya pemerintah karena masalah pembangunan merupakan tanggung jawab bersama. Tidak bijak jika kita hanya dapat berteriak dan memojokan pemerintah apalagi cenderung mempolitisir. Namun lebih tidak terpuji lagi apabila pemerintah pun demi pembangunan merugikan dan mengorbankan kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Sekedar mengingatkan, berdirinya Kota Cilegon yang diresmikan pada Tanggal 27 April 1999 merupakan bentuk nyata dari suatu perjuangan masyarakat. Dengan Motto Akur Sedulur Jujur Adil Makmur, seyogyanya pemerintah menempatkan keadilan social dan kesejahteraan rakyatnya sebagai tujuan akhir dari proses pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Jika menafsir motto di atas, pada hakikatnya pembangunan di Cilegon harus bersifat inklusif, menjangkau dan mengangkat derajat seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat Cilegon harus maju dan makmur bersama, tidak boleh maju dan makmur sendiri-sendiri apalagi segelintir orang. Jika kesatuan dan persatuan masyarakat Cilegon diibaratkan sedulur, maka kekuatannya adalah pada ikatan persaudaraan dan kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tujuan Akhir Pembangunan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Pembangunan yang digalakan di Cilegon semata-mata untuk rakyat semuanya. Bukan hanya rayat kuleu, dulur kuleu, adi kuleu dan rabi kuleu tapi pembangunan diorientasikan untuk semua tanpa membeda-bedakan, setiap warga masyarakat secara bersamaan memiliki hak dan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan. Karena itu, pemerintah harus memastikan agar tidak ada kelompok-kelompok masyarakat yang tertinggal dalam proses pembangunan atau merasa dirugikan oleh adanya pembangunan. Karena dalam pembangunan haruslah menuju pada kemaslahatan bersama. Sangat diharamkan jika ada seorang manusia atau sekelompok manusia yang lebih sejahtera secara mencolok sedangkan masih ada orang yang kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Dalam konteks ini pemerintah daerah menempatkan keadialan social dan kesejahteraan rakyat sesuatu yang utama dan urgen. Keputusan tersebut telah berada pada jalur yang benar yang harus diimplementasikan dengan segala konsekwensinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Literatur filsafat politik menegaskan bahwa segala kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh pemerintah tentu menuntut claim atas nama penataan kesejahteraan rakyat, dan itu harus dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi dalam pengelolaan pemerintah yang kesehariaannya selalu berhadapan dengan pertanyaan legitimasi etis, seperti kasus diatas yang penyelesaiaannya harus didasarkan pada hal-hal etis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan yang tengah direncanakan di Kota Cilegon, dalam kerangka sosio ekonomi tentu sangat berguna. Akan tetapi pemerintah daerah perlu juga mengukur kelemahan dan implikasi negative dari program pembangunan yang tengah digalakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Jika saja, aspek negatif dari pembangunan tersebut tidak segera diatasi oleh pemerintah daerah sebagai pengambil kebijakan, maka legitimasi etis harus dapat menghentikannya. Sebaliknya jika resiko pembangunan tersebut dapat diatur dalam beragai kebijakan preventive, maka legitimasi etis harus memberi tempat bagi kebijakan pembangunan yang tengah dicanangkan. Artinya pembangunan wajib dilanjutkan apapun konsekwensinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Pada focus inilah pembangunan yang tengah digalakan di Kota Cilegon harus benar-benar dikaji secara serius manfaat dan dan maudharatnya, karena jika kurang hati-hati menurut hemat penulis dapat melahirkan ketegangan dalam system keluarga dan pranata social politik lainnya. Tidak menutup kemungkinan riak-riak kerenggangan akan terus menggelinding dan menjadi bola panas, oleh karenanya suatu keniscayaan dicari jalan keluarnya agar hal-hal buruk yang disebabkan mega proyek tersebut dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Telaah Kritis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Akhir-akhir ini banyak orang yang sekeptis, dan ironis membaca keadilan social dan pembangunan di Cilegon. Tentunya fenomena ini dapat membuka ruang public untuk mengkaji dan mendiskusikan berbagai persoalan yang terjadi di kota ini. Salahsatunya dengan menelaah kembali peran pemerintah daerah terhadap masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Menelaah peran pemerintah Kota Cilegon kaitannya dengan tanggungjawab terhadap rakyatnya paling tidak bermuara pada dua hal. pertama penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan kedua pemerintahan Kota Cilegon harus dilandasi oleh kejujuran dan keterbukaan. Karena pemerintah Daerah akan terasa bermanfaat dan sangat penting eksistensinya bila terus beradaptasi dengan realitas kemajuan dan perubahan yang disebakan oleh masyarakat yang maju dan modern.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Oleh karenanya legitimasi pemerintah harus diperbaharui atas dasar keaktifan. Pemerintah jangan lagi dilegitimasi oleh symbol-simbol tradisonal, dan seharusnya pemerintah secara structural menanggapi perubahan dan modernisasi dengan berperan sebagai wasit dan fasilitator.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Pemerinitah daerah seyogyanya berperan diranah public dengan mengacu pada transparansi dan keterbukaan untuk melawan korupsi kolusi dan nefotisme. Dalam hal ini bukan berarti penulis berburuk sangka dengan mengatakan didaerah terjadi korupsi, akan tetapi hakikat dari situasi dan setting politik telah berubah jauh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Suatu hal yang harus diyakini bahwa pemerintah Kota Cilegon tidak lagi memiliki musuh. Untuk memperoleh legitimasinya adalah dengan cara meningkatkan pelayanan dan efiesensi administrasinya. dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik, tidak hanya disandarkan pada pemerintah (government), namun perlu melibatkan seluruh elemen masyarakat dan terutama sektor swasta yang berperan dalam governace.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Hal ini bertujuan untuk membangun sinergi dan sekaligus merespon realiatas perubahan untuk memperkuat setiap persaudaaraan dalam bingkai persatuan dan kesejahteraan masyarakat Cilegon.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; (tulisan ini terbit di Baraya Post Edisi Rabu 18/11/2009)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1779863485875447906-119847229706523044?l=www.sosiobanten.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/2009/12/pembangunan-untuk-rakyat.html</link><author>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906.post-2275004100294134095</guid><pubDate>Tue, 22 Dec 2009 02:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-31T07:45:09.201+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Pemimpin Cerdas</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Cilegon</category><title>Cilegon Perlu Pemimpin Cerdas</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemilu kepala daerah tinggal beberapa bulan lagi, rakyat dibingungkan dengan isu dan photo calon walikota yang mulai menghiasi fasilitas umum terutama dipinggiran kota. Lantas masyarakat bertanya-tanya itu photo siapa, anaknya siapa, kuliahnya di mana, dan apa peran yang telah dilakukan dalam mengangkat martabat rakyat?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomana diatas paling tidak menarik untuk dicermati sehingga muncul pertantanyaan, apakah dengan menebar photo dan baliho di perkampungan akan menuai hasil yang diharapkan? Terlebih photo dan baliho tersebut dikemukakan selogan yang cukup “fantastis” yang seakan-akan dengan menjadi walikota satu-satunya cara untuk memperjuangkan nasib rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja niatan berjuang untuk merubah nasib rakyat itu di munculkan sejak dahulu? mungkin masyarakat tidak akan terlalu banyak bertanya-tanya. Tapi hemat penulis fenomena ini tak masalah dan dipandang normal, mungkin ini ciri berjuang pada era modern? Sebagaimana pemikirannya Georg Simmel, " bahwa Modernitas memberi keuntungan pada umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini Modernitas diartikan sebagai tanda kekuatan instrinsik manusia yang sebelumnya tidak diwujudkan. Oleh karenanya kandidat walikota yang maju pada pemilukada akan berjuang untuk mengukur kekuatan dirinya dan melihat sampai sejauhmana dukungan masyarakat terhadapnya. Weber berpandangan bahwa modernitas tidak dapat lepas dari rasionalitas formal, Artinya jika saja seseorang (kandidat red) telah mengorbankan tenaga, fikiran, harta dan kekayaan tentu telah terbayangkan secara terukur menurut perhitungan rasionalitasnya jika setelah tujuannya tercapai maka akan memperoleh modal simbolik (yakni: prestise, dan jabatan) yang memiliki gengsi setinggi sekian, dan memiliki harta sejumlah sekian. Inilah rasionalitas formal yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalkulasi perhitungan seperti ini masyarakat awam pasti mengerti, meskipun mereka tidak mampu menghitungnya. Namun saat ini masyarakat bingung memilih kandidat walikota cilegon kedepan yang benar-benar ikhlas memperjuangkan nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pentingnya pemimpin &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran Islam aspek kepemimpinan memiliki kedudukan yang penting, karena maju dan mundurnya suatu daerah (daulah) ditentukan oleh pemimpinnya. Pemimpin yang mendesain masa depan dan pemimpin pula yang menggerakan masyarakatnya untuk menggapai suatu cita-cita yang telah disepakati. Tentunya bukan hanya berlaku pada level politik, Namun menyeluruh dalam berbagai level kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban Islam menggoreskan bahwa pada saat Nabi Muhammad wafat, langkah pertama yang ditempuh ummat Islam waktu itu adalah menentukan siapa pengganti Nabi. Maka tak heran jika dalam tradisi politik Sunni Ada dalil yang radikal yakni "Memilih pemimpin yang zalim lebih baik dari pada satu hari tidak ada pemimpin”. Tentu saja dalil ini mengisyaratkan betapa sentral kedudukan pemimpin dalam keberlangsungan hidup umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian pemilukada yang akan digelar di Cilegon merupakan sarana rekrutmen calon-calon pemimpin masa depan, seyogyanya sebagai warga masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memilih pemimpin yang cerdas yang mampu membawa masyarakatnya kearah kemajuan, mandiri demoktaris dan berkeadilan. Tentu saja pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin yang menjadi aset daerah bukan sebaliknya menjadi beban daerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kriteria Pemimpin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cilegon kedepan akan dihadapkan pada agenda besar yakni melanjutkan pembangunan, penataan pemerintahan yang bersih dan penguatan demokratisasi. Dengan demikian pemimpin yang diperlukan adalah pemimpin yang sama sekali tidak berbenturan dengan nilai-nilai modern. Artinya pemimpin Cilegon kedepan harus memiliki sifat kepemimpinan universal yang bermuara pada suatu nilai, yakni seorang pemimpin mampu memberi motivasi dan manfaat terhadap masyarakat yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal kapasitas intelektualnya pemimpin seperti ini mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan praktek praktek organisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. Menurut Bryman, tipe pemimpin seperti ini akan mampu memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari nilai-nilai diatas pemimipin masa depan setidaknya memiliki dua sifat ideal. Pertama, seorang pemimpin harus dipilih dari yang aslah (dalam arti sederhananya lulus uji kelayakan dan kepatutan) tentu saja ia sebagai orang yang terbaik dalam berbagai hal di antara kandidat yang ada. Paling tinggi imannya, paling baik moralnya, paling mulya akhlaknya, paling mumpuni ilmu pengetahuannya, dan paling luas wawasannya dalam mengatasi masalah-masalah hidup, serta yang paling penting terampil memanage wilayah yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Jika saja kriteria diatas tidak diperoleh di antara kandidat yang ada, maka pilihlah kriteria yang di bawahnya, dan apabila hal tersebut juga tidak bisa diperoleh, pilihlah kandidat yang memiliki kekuatan jasmani dan rohani, yang cerdas dan mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Tentua ia harus yang dapat dipercaya, jujur, tulus dalam melaksanakan tugas yang diembannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw.,bersabda "Barang siapa yang mengangkat seseorang untuk mengurusi perkara kaum muslimin, lalu mengangkat orang tersebut, sedangkan dia mendapatkan orang yang lebih baik dan lebih layak serta lebih sesuai dari orang yang telah diangkatnya maka dia telah berkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya." (Al-Hadis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada Hadis ini tentunya masyarakat Cilegon tidak boleh sembarangan dalam memilih pemimpin. Apabila salah dalam memilih orang, berarti dosa bagi diri kita, dan berakibat berdosa pada masyarakat manakala pemimpin tersebut hanya mementingkan diri sendiri dan merugikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika penulis memberikan masukan pada para kandidat yang akan maju pada pemilukada 2010 untuk menyebutkan lulusan mana, prestasi apa, sering ke mesjid mana, kalu perlu tuliskan di photo atau di baliho yang terpampang pinggir jalan. Karena menyebarkan riwayat hidup dalam kampanye politik jauh lebih penting daripada mencantumkan janji –janji manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat pemilih waspadalah, jangan-jangan yang akan kita pilih adalah seorang "preman" yang suka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Dan jika terpilih akan menjual aset-aset daerah untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Waspadalah...(tulisan ini terbit di Baraya Post Edisi Selasa 15/12/2009)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1779863485875447906-2275004100294134095?l=www.sosiobanten.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/2009/12/cilegon-perlu-pemimpin-cerdas.html</link><author>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906.post-2687609587996242431</guid><pubDate>Fri, 20 Nov 2009 10:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-30T16:52:47.816+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Contact Us</category><title>Contact Us</title><description>&lt;center&gt;&lt;iframe height="497" allowTransparency="true" frameborder="0" scrolling="no" style="width:100%;border:none"  src="http://bungzhu.wufoo.com/embed/z7x4z5/"&gt;&lt;a href="http://bungzhu.wufoo.com/forms/z7x4z5/" title="Hubungi Saya" rel="nofollow"&gt;Fill out my Wufoo form!&lt;/a&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1779863485875447906-2687609587996242431?l=www.sosiobanten.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/2009/12/contact-us.html</link><author>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</author></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906.post-916490789839569903</guid><pubDate>Mon, 16 Nov 2009 11:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-30T16:53:01.349+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Sitemap</category><title>Sitemap</title><description>&lt;center&gt;&lt;script style="" src="http://hilal.web.id/blogtoc-min.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://www.sosiobanten.co.cc/feeds/posts/default?max-results=9999&amp;amp;alt=json-in-script&amp;amp;callback=loadtoc"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1779863485875447906-916490789839569903?l=www.sosiobanten.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/2009/12/sitemap.html</link><author>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</author></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-1779863485875447906.post-8725652127127438131</guid><pubDate>Sun, 15 Nov 2009 10:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-06T14:30:07.208+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>About Me</category><title>About Me</title><description>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" class="fullpost"&gt;Aku yang gelisah"&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51); font-size: 100%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Aku ingin berbuat dengan sederhana.                             &lt;br /&gt;"Melalui kata yang tak sempat diucapkan,&lt;br /&gt;...seperti kayu kepada api yang menjadikannya abu.&lt;br /&gt;"'..Aku ingin berbuat dengan sederhana.&lt;br /&gt;dengan isyarat yang tak sempat disampaikan,                           &lt;br /&gt;...seperti  awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51); font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;                               Aku akan terus berbuat,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;sampai raga membisu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1779863485875447906-8725652127127438131?l=www.sosiobanten.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.sosiobanten.co.cc/2009/12/about-me.html</link><author>noreply@blogger.com (Sosio Banten)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>
