Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Banten dan Isu Gender(Kado Buat Perempuan Banten)

Diposkan oleh Sosio Banten | 13:02

Lahirnya provinsi Banten yang dikukuhkan oleh Undang-undang N0. 23 tahun 2000, merupakan bentuk nyata dari satu perjuangan panjang masyarakat Banten yang memiliki komitmen kuat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Banten.

Jika dulu Banten pernah mencapai kejayayaan dibawah kesultanan Banten Kenapa tidak, Banten kini bisa makmur dibawah kepemimpinan “ Ratu Atut Ckhosiah”. Terlepas banyak dan sedikitnya, masalah social ekonomi dan politik yang dihadapi oleh warga Banten, setidaknya rasa optimis perlu dipelihara untuk memacu ketertinggalan dibanding dengan daerah lain.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membandingkan dulu dan kini, selain setting social pilitik dan budayanya berbeda, perlu diyakini bahwa seorang pemimpin adalah orang yang terbaik dimasanya. Oleh karenanya tidak ada salahnya jika kita belajar dari sejarah, agar sang pemimpin dapat berpijak pada konteks kekinian dan “berpetualang” menjelajahi alam yang belum disentuhnya.

Oleh karenanya belajar pada sejarah merupakan suatu hal penting bagi warga Banten, bukan hanya korelasinya dengan etnisitas Banten, akan tetapi ada yang jauh lebih bermakna dalam sejarah Banten yakni nilai-nilai kearifan.

Mungkin saja bagi sebagaian kalangan atau beberapa orang sedikit terhentak melihat perubahan social yang tengah melingkupi masyarakat Banten. Bahkan ada yang berpendapat bahwa Banten belum bisa merdeka dari kemiskinan, pengangguran buta aksara,kumbuh dan ada juga yang sangat tega mengatakan SDM-nya rendah.Namun masyarakat banten memiliki kesadaran penuh untuk berani berharap dan menggantungkan asanya pada kepemimpinan perempuan.

Padahal jka dirunut pada konteks isu jender di kita sangat sensitive. Berbicara perempuan sama saja dengan berbicara doktrin agama. Tengok saja ketika Indonesia mengadakan pemilu untuk memilih wakil rakyat, dan presiden ke-4, Ketika itu nama Megawati merupakan kandidat perempuan satu-satunya utuk duduk di kursi ke-presidenan. Apa yang terjadi banyak pihak yang tidak setuju (presiden perempuan) kala itu dengan alasan Islam tidak menerima kepemimpinan perempuan.

Lain halnya di Banten meskipun masyarakatnya dianggap pendidikannya rendah, dan mayoritas warganya beragama Islam tetapi tidak ada satupun yang muncul kepermukaan mengatakan ketidaksetujuaannya terhadap kepemimpinan perempuan di Banten apalagi sampai mempolitisasi Agama.

Disini kecerdasan dan kearifan masyarakat Banten sekaligus membantah pendapat orang yang selama ini mengatakan bahwa masyarakat Banten merasa berat beradaptasi dengan perubahan social dan ekonomi yang terjadi disekelilingnya. Realitas ini menegaskan bahwa ukuran tradisional atau modern bukan hanya saja terletak pada ruang dan yang melingkupinya tetapi kita harus memaknainya secara esensial yakni fungsinya dalam konteks historis regional.

Eklusi terhadap Perempuan Banten
Masalah perempuan sampai saat ini masih menjadi diskursus yang tak kunjung usai, selain karena terus mengalami perkembangan, juga banyak persoalan perempuan yang tidak pernah habis kehadirannya dimuka bumi ini. Hal ini sangat tampak ketika membicarakan rendahnya sumberdaya perempuan, maraknya kekerasan terhadap perempuan baik diranah public atau di sector lainnya.Tentunya situasi ini harus mendapat perhatian serius dari stakeholder dan terlebih dari perempuan itu sendiri.

Banyak studi membuktikan bahwa bidang-bidang kehidupan perempuan mengalami subordinasi, diskriminasi, marginalisasi dan ekploitasi. Sehingga perempuan tersingkir ke sektor domestic yang sesuai dengan strotpe gendernya, yang tidak membutuhkan keterampilan tinggi dan berupah rendah, seperti sector jasa, adminitative dan buruh pabrik.

Realitas ini terlihat dari data Tahun 2002 jumlah penduduk provinsi Banten yang berjenis kelamin perempuan sekitar 4.018.000 (49,62%) dan laki-laki 4.079.000 (50,38%). Bila kita membandingkan peran dan partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi dipropinsi Banten sangat tertinggal jauh jika dibandingkan dengan laki-laki. Kesimpulan ini diambil dari tingkat jumlah angkatan kerja perempuan (47,88%) yang jauh lebih kecil dari laki-laki (67,83%). Misalnya dibidang pertanian, perempuan berkisar pada angka (9,53%) sedangkan laki-laki (16,29%). Di bidang industri, jumlah pekerja perempuan (6,23%) lebih sedikit dibandingkan laki-laki yang mencapai angka 12.83%. dibidang jasa-jasa perempuan hanya (21,02%) sedangkan laki-laki (34,11%).

Data diatas menunjukan bahwa perempuan masih termarjinalkan, dan perempuan hanya dimanfaatkan sebagai sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja (demi kepentingan ekonomi negara), bukan untuk kepentingan perempuan.
Oleh karenanya seiring dengan perjalanan pembangunan yang sarat dengan perubahan mendasar, menjadi sebuah peluang dan harapan besar bagi pengembangan potensi dan pemberdayaan perempuan di Banten. Terlebih Banten kini dipimpin oleh perempuan. (Bersambung...Wassalam)
Selengkapnya...

KRC dan Politik Pencitraan

Diposkan oleh Sosio Banten | 10:01

William Liddle, ahli sosiologi politik (social political scientist) dari Ohio University, pernah meramalkan bahwa era politik sekarang adalah era politik ketokohan. Tidak lagi diramaikan oleh pertarungan ideologi atau politik aliran, seperti diasumsikan oleh teori antropolog terkenal Clifford Geertz (1964), (Kompas, 7 Juli 2009).

Ramalan diatas dikukuhkan oleh Sejumlah pengamat dan ahli komunikasi massa yang meyakini bahwa kemenangan SBY dalam Pilpres 2004 dan 2009, tak lepas dari suksesnya tim kampanye SBY yang berhasil membangun dan mempertahankan citra SBY sebagai figur pemimpin yang ”santun”, ”berwibawa”, ”menyejukan”, ”tokoh penuh pengharapan” atau ”pengayom rakyat kecil”.

Fenomena SBY dengan politik pencitraannya, telah menjadi inspirasi dan refrensi Iman Aryadi sebagai kadidat walikota Cilegon dalam perebutan kekuasaan di pilkada mendatang.

Hal itu dapat dilihat dari pasca deklarasi pencalolannya di musda golkar tahun lalu, politik pencitraan terus dijalankan oleh Iman Aryadi. Meskipun waktu itu golkar mengalami gempa politik yang melahirkan konflik antara Syam Rahmat dan Ketua DPD Golkar Cilegon.

Kemudian Iman Aryadi melakukan langkah-langkah politik “simbolis” yang mencitrakan dirinya sebagai tokoh pemimpin muda masa depan yang “cerdas”, “ramah”, pro pembangunan dan dekat dengan ulama. Pencitraan itu bertujuan untuk menghasilkan persepsi masyarakat Cilegon bahwa Iman Aryadi adalah satu-satunya Kandidat Walikota Cilegon masa depan.

KRC dan Pencitraan Rasional
Kongres Rakyat Cilegon yang diselenggrakan pada tanggal 28 dan 29 oktober merupakan media pencitraan Iman Aryadi sebagai Calon walikota masa depan yang merefresentasikan kebangkitan kepemimpinan muda di Cilegon. Dikontruksi untuk menjalin komunikasi politik atau hubungan antara seorang aktor politik dengan calon pemilih.

Kegiatan ini diciptakan untuk menjalin hubungan transaksional yang rasional. Asumsinya tergambar dari agenda acara kongres, yang menghadirkan narasumber top nasional, Kemudian acara intinya adalah sesi pemaparan visi dan misi calon walikota Cilegon. Tentunya tidak dapat disangkal lagi bahwa KRC sebagai media pencitraan seorang calon walikota yang ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat Cilegon khusunya, dan Nasional pada umumnya bahwa dirinya merupakan calon pemimpin masa depan yang cerdas.

Program ini dirangkai secara terencana dan terarah untuk pemilih rasional yang dianggapnya tidak begitu saja percaya terhadap program, janji-janji seorang kandidat atau iming-iming materi yang ditawarkan. Karena dalam segmen pemilih rasional program yang tidak rasional, atau terkesan hanya untuk menyenangkan pemilih, akan ditolak secara mentah-mentah.

Bagi pemilih rasional dukungan politik yang diberikan pemilih kepada kandidat semata-mata karena kandidat dinilai memiliki kompetensi dan kapasitas sebagai aktor politik. Karena itu politik pencitraan seorang aktor politik sangat tergantung dari sejauhmana visi dan misi politik yang disusun dapat meyakinkan pemilih.

Halalnya Politik Pencitraan
Dalam literatur ilmu politik, pencitraan politik atau politik pencitraan sangat “dihalalkan”, dan lumrah adanya. Apalagi dalam konteks reformasi dan demokrasi pencitraan politik telah menjadi bagian yang tidak tak terpisahkan dari pentas politik negeri ini. Menurut para ahli marketing politik citra seseorang dapat diciptakan, dibangun dan diperkuat melalui proses pencitraan.

Oleh karenanya dalam konteks ini, pencitraan adalah sesuatu yang wajar bahkan mungkin harus dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan, tetapi setelah itu yang paling terpenting adalah bagaimana menunjukkan kualitas yang sesungguhnya sehingga yang dihargai adalah kualitas dan integritas pribadi yang berprestasi.

Perlu ditegaskan bahwa politik pencitraan sangat tidak mungkin dipisahkan dari praktek politik dalam pilkada untuk memilih kandidat Walikota Cilegon 2010 mendatang. Namun benang merahnya adalah pencitraan yang dikontruksi oleh kandidat, dilakukan dengan bertolak pada prinsip “napak kebumi” bukan “menggantung ke langit”. Artinya para calon walikota Cilegon mendatang diharapkan lebih bijak melihat rakyat sebagai penerima pesan, simbol, dan program yang dicitrakan oleh Cawalkot. Bukan semata-mata dipandang sebagai entitas politik yang bisa di eksploitasi seperti kerbau yang di cocok hidungnya. Rakyat Cilegon sudah pintar dan mampu untuk berfikir rasional. Meskipun tidak sedikit pula yang masih akrab dengan simbol kemapanan, agama, dan atau nilai-nilai primordial lainnya.

Oleh karenanya sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dari calon walikota dan tim suksesnya, Tidak ada salahnya jika setiap politik pencitraan yang dilakukan bermuara guna meciptakan transaksi politik dengan rakyat Cilegon secara rasional. Bukan sebaliknya mengkontruksi politik pencitraan negatif dengan menjual dan membodohi rakyat dengan janji-janji irasonal dan mengekploitasi sisi emosional rakyat.

Kesimpulannya adalah politik pencitraan adalah sangat boleh karena pada dasarnya politik pencitraan bertujuan membangun dan mecerminkan realitas keseharian sang kandidat. Jika memang dalam kesehariannya kandidat adalah tokoh yang cerdas, pro pembangunan, religius maka selayaknya tim sukses memperkuat dan meneguhkan citra kandidat dengan berbagai media, termasuk Kongres rakyat Cilegon (KRC).

Sebagai penutup mari bangun politik pencitraan di pilkada mendatang dengan cerdas dan santun. Untuk mendewasakan masyarakat, dan bukan sebaliknya mengakali atau mengiconi masyarakat. Wassalam (tulisan ini terbit di Baraya Post edisi Kamis 5 november 2009)
Selengkapnya...

Konflik dan Kesantunan Politik

Diposkan oleh Sosio Banten | 09:58

Hiruk pikuk politik di Banten khususnya di Cilegon, akhir-akhir ini sangat menarik untuk di perbincangkan. Apalagi jika merangkai aktivitas dan prilaku para elit politik lokal yang asyik mempertontonkan manuver politiknya, menghiasi wajah dinamika masyarakat bagai selebritis yang baru naik daun.

Berbagai macam isu dan sensasi politik seolah tak ada habisnya di ciptakan agar menjadi komoditi berita dan menjadi wacana publik dengan harapan dapat membantu popularitas dan pecitraan politik secara gratis.

" Ganyang Fira’un”” misalnya, beberapa hari kebelakang menjadi isu aktual yang membuat “geger” masyarakat di kota Cilegon. Padahal jika dicermati secara cerdik pernyataan tersebut kalau tidak ditanggapi berlebihan sama sekali tidak akan berdampak serius. Justru sebaliknya semakin dibesar-besarkan maka popularitas dan pesan –pesan politik yg ada dalam rangkaian CD “ganyang fira’un” akan memancing orang untuk bertanya dan mencari untuk memenuhi rasa keingintahuannya.


Konflik antar elit
Isu “” ganyang Firaun”” meningkatkan suhu politik di Cilegon semakin memanas, rangkaian kegiatan yang bernuansa politik bergulir dan bermuara pada konflik elit politik local. Para elit lokal cenderung mengabaikan kesantunan dalalam berpolitk justru mengutamakan emosi, dan kepentingan kelompok. Akibatnya muncul isu penyerangan pada pribadi antar elit dengan menyerempet pada pembunuhan karakter.

Konflik antar elit local tersebut menurut hemat penulis lebih disebabkan pada pemaknaan politik yang ditafsirkan oleh para elit sebagai upaya perebutan kekuasaan ( struggle of power). Dan Kekuasaan politik di pergunakan untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya. Hal ini dapat terjadi dikarenakan minimnya pendidikan politik santun di kota ini.

Dalam literatur ilmu politik, memang banyak ragam dan pendapat tentang arti politik. Namun yang paling akrab, di masyarakat “Politik sering diidentikkan dengan kekejaman dan kekotoran”. Citra negatif politik ini sangat berkaitan erat dengan prilaku elit politik dalam perebutan kekuasaan yang dalam konteks kekinian di pertontonkan dengan cara yang kurang elegan dan santun.

Pernyataan “Ganyang Firaun”” sesungguhnya ungkapan biasa jika di tempatkan dan di terima pada situasi biasa. Namun menjadi luar biasa dan seolah aneh jika masuk pada ranah politik yang tingkat sensitifitasnya tinggi, terlebih diawali dengan kalimat-kalimat pengantar yang mengkritisi kepemimpinan yang tengah berkuasa. Tentunya sangat wajar jika pernyataan tersebut mengundang tanggapan beragam dari masyarakat.

Hemat penulis biarkanlah fenomena itu berkembang, sebagai bagian dari dinamika politik lokal yang tengah belajar demokrasi. Namun tetap kesantunan adalah keniscyaan yang mesti menjadi sandaran tingkah laku dalam berpolitik. Sebab, dalam politik perbedaan adalah hal yang lumrah. Akan tetapi memaknai perbedaan tanpa memahami makna kandungan aplikasinya justru akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan.

Politik Santun
Rangkaian kegiatan yang bernuansa persaingan, perlu diakui sering kali ditandai dengan prilaku yang kurang santun. Meng¬eksploitasi ke¬le¬mahan lawan, men¬cela, dan saling menjatuhkan. Itulah politik, yang menurut Harold Lasswell (1972) hanyalah siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana.

Dalam konteks politik, perkawanan hanya bisa dirajut sepanjang ada persamaan kepentingan. Pada saat berbeda kepentingan kawan akan berbalik menjadi lawan. Maka tak salah jika ada yang mengatakan, dalam politik tak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.

Mencermati fenomena politik yang semata-mata berlandaskan pada kepentingan pragmatis, adakah harapan akan prilaku politik elit lokal yang didasarkan pada fatsoen (tatakrama) sehingga makna politik yang sejatinya sangat positif itu tidak menjadi negatif. Tentunya kita sebagai entitas budaya, politik sangat membutuhkan fatsoen yang menuntut ketaatan para politikus.

Socrates menjelaskan bahwa politik adalah martabat dan harga diri sehingga dalam berpolitik seseorang harus memiliki keutamaan moral. Prakteknya, politik adalah ilmu dan seni yang berorientasi pada upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Jadi, manakala kepentingan masyarakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat terabaikan maka sesungguhnya hal ini telah menodai politik itu sendiri.

Kesantunan politik adalah suatu hal yang penting dan patut dijadikan sandaran dalam berpolitik. Sebab, kesantunan akan menuntun seseorang untuk menghargai arti sebuah perbedaan. Kesantunan akan membimbing makna sebuah komitmen.

Dapat dibayangkan jika kepentingan politik yang dilanggengkan itu menubruk rambu-rambu dan menabrak susila kehidupan bermasyarakat. Yang kemudian perilaku elit politik tidak mengedepankan kesantunan, maka adegan yang memalukan pun akan terjadi saling hujat bukanlah sebuah kesalahan, perang kata-kata berujung pada adu fisik sepertinya menjadi hal yang biasa, atau saling oncog dan saling klaim dengan mengusung nama kepedulian menjadi identitas yang bermuara pada egosentris.
Realitas ini merupakan cermin dinamika politik kita, meskipun hanya ditampilkan oleh segelintir elit saja.
Namun kalu tidak segera dibenahi akan melahirkan (dis trush) atau mosi tidak percaya rakyat terhadap politisi.

Oleh karenanya politik santun dan kesantunan dalam berpolitik perlu di realisasikan bukan sekadar gincu atau wacana. Ini perlu segera diwujudkan dengan niatan yang tulus untuk mempraktekan politik yang bermoral dalam bingkai kesungguhan hati dan keberanian untuk memulai.

Jika saja politik santun ini di implementasikan dalam kehidupan berpolitik, maka para elit politik akan mejadi tuntunan bagi masyarakat. Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa budaya politik masyarakat kita masih bersifat patron-clien. Artinya, bahwa elit politik adalah contoh teladan bagi pengikutnya (masyarakatnya). Dalam bahasa psikologi elit politik menjadi model bagi masyarakatnya. Jika elit politiknya tidak layak untuk diteladani lantas masyarakat mencontoh sama siapa?..(Tulisan ini dimuat di Banten Raya Post Edisi 11 November 2009)

Selengkapnya...

Pembangunan Untuk Rakyat

Diposkan oleh Sosio Banten | 09:54

Keputusan Walikota Cilegon mengenai pembatalan program penyertaan modal dari PNS untuk pembangunan pelabuhan kubang sari. Menurut hemat penulis sangat tepat dan bijaksana. Bagaimana tidak, dilihat dari aspek etis dan politis pemotongan gaji tunjangan PNS sangatlah tidak populer dimata rakyat. Dan jika terus dipaksakan akan melahirkan gejolak di tengah masyarakat.

Kejadian ini seyogyanya menjadi perhatian semua pihak, bukan hanya pemerintah karena masalah pembangunan merupakan tanggung jawab bersama. Tidak bijak jika kita hanya dapat berteriak dan memojokan pemerintah apalagi cenderung mempolitisir. Namun lebih tidak terpuji lagi apabila pemerintah pun demi pembangunan merugikan dan mengorbankan kepentingan rakyat.

Sekedar mengingatkan, berdirinya Kota Cilegon yang diresmikan pada Tanggal 27 April 1999 merupakan bentuk nyata dari suatu perjuangan masyarakat. Dengan Motto Akur Sedulur Jujur Adil Makmur, seyogyanya pemerintah menempatkan keadilan social dan kesejahteraan rakyatnya sebagai tujuan akhir dari proses pembangunan.


Jika menafsir motto di atas, pada hakikatnya pembangunan di Cilegon harus bersifat inklusif, menjangkau dan mengangkat derajat seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat Cilegon harus maju dan makmur bersama, tidak boleh maju dan makmur sendiri-sendiri apalagi segelintir orang. Jika kesatuan dan persatuan masyarakat Cilegon diibaratkan sedulur, maka kekuatannya adalah pada ikatan persaudaraan dan kebersamaan.

Tujuan Akhir Pembangunan
Pembangunan yang digalakan di Cilegon semata-mata untuk rakyat semuanya. Bukan hanya rayat kuleu, dulur kuleu, adi kuleu dan rabi kuleu tapi pembangunan diorientasikan untuk semua tanpa membeda-bedakan, setiap warga masyarakat secara bersamaan memiliki hak dan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan. Karena itu, pemerintah harus memastikan agar tidak ada kelompok-kelompok masyarakat yang tertinggal dalam proses pembangunan atau merasa dirugikan oleh adanya pembangunan. Karena dalam pembangunan haruslah menuju pada kemaslahatan bersama. Sangat diharamkan jika ada seorang manusia atau sekelompok manusia yang lebih sejahtera secara mencolok sedangkan masih ada orang yang kekurangan.

Dalam konteks ini pemerintah daerah menempatkan keadialan social dan kesejahteraan rakyat sesuatu yang utama dan urgen. Keputusan tersebut telah berada pada jalur yang benar yang harus diimplementasikan dengan segala konsekwensinya.

Literatur filsafat politik menegaskan bahwa segala kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh pemerintah tentu menuntut claim atas nama penataan kesejahteraan rakyat, dan itu harus dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi dalam pengelolaan pemerintah yang kesehariaannya selalu berhadapan dengan pertanyaan legitimasi etis, seperti kasus diatas yang penyelesaiaannya harus didasarkan pada hal-hal etis.

Pembangunan yang tengah direncanakan di Kota Cilegon, dalam kerangka sosio ekonomi tentu sangat berguna. Akan tetapi pemerintah daerah perlu juga mengukur kelemahan dan implikasi negative dari program pembangunan yang tengah digalakan.

Jika saja, aspek negatif dari pembangunan tersebut tidak segera diatasi oleh pemerintah daerah sebagai pengambil kebijakan, maka legitimasi etis harus dapat menghentikannya. Sebaliknya jika resiko pembangunan tersebut dapat diatur dalam beragai kebijakan preventive, maka legitimasi etis harus memberi tempat bagi kebijakan pembangunan yang tengah dicanangkan. Artinya pembangunan wajib dilanjutkan apapun konsekwensinya.

Pada focus inilah pembangunan yang tengah digalakan di Kota Cilegon harus benar-benar dikaji secara serius manfaat dan dan maudharatnya, karena jika kurang hati-hati menurut hemat penulis dapat melahirkan ketegangan dalam system keluarga dan pranata social politik lainnya. Tidak menutup kemungkinan riak-riak kerenggangan akan terus menggelinding dan menjadi bola panas, oleh karenanya suatu keniscayaan dicari jalan keluarnya agar hal-hal buruk yang disebabkan mega proyek tersebut dapat dihindari.

Telaah Kritis
Akhir-akhir ini banyak orang yang sekeptis, dan ironis membaca keadilan social dan pembangunan di Cilegon. Tentunya fenomena ini dapat membuka ruang public untuk mengkaji dan mendiskusikan berbagai persoalan yang terjadi di kota ini. Salahsatunya dengan menelaah kembali peran pemerintah daerah terhadap masyarakat.

Menelaah peran pemerintah Kota Cilegon kaitannya dengan tanggungjawab terhadap rakyatnya paling tidak bermuara pada dua hal. pertama penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan kedua pemerintahan Kota Cilegon harus dilandasi oleh kejujuran dan keterbukaan. Karena pemerintah Daerah akan terasa bermanfaat dan sangat penting eksistensinya bila terus beradaptasi dengan realitas kemajuan dan perubahan yang disebakan oleh masyarakat yang maju dan modern.

Oleh karenanya legitimasi pemerintah harus diperbaharui atas dasar keaktifan. Pemerintah jangan lagi dilegitimasi oleh symbol-simbol tradisonal, dan seharusnya pemerintah secara structural menanggapi perubahan dan modernisasi dengan berperan sebagai wasit dan fasilitator.

Pemerinitah daerah seyogyanya berperan diranah public dengan mengacu pada transparansi dan keterbukaan untuk melawan korupsi kolusi dan nefotisme. Dalam hal ini bukan berarti penulis berburuk sangka dengan mengatakan didaerah terjadi korupsi, akan tetapi hakikat dari situasi dan setting politik telah berubah jauh.

Suatu hal yang harus diyakini bahwa pemerintah Kota Cilegon tidak lagi memiliki musuh. Untuk memperoleh legitimasinya adalah dengan cara meningkatkan pelayanan dan efiesensi administrasinya. dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik, tidak hanya disandarkan pada pemerintah (government), namun perlu melibatkan seluruh elemen masyarakat dan terutama sektor swasta yang berperan dalam governace.

Hal ini bertujuan untuk membangun sinergi dan sekaligus merespon realiatas perubahan untuk memperkuat setiap persaudaaraan dalam bingkai persatuan dan kesejahteraan masyarakat Cilegon.
(tulisan ini terbit di Baraya Post Edisi Rabu 18/11/2009)
Selengkapnya...

Cilegon Perlu Pemimpin Cerdas

Diposkan oleh Sosio Banten | 09:43

Pemilu kepala daerah tinggal beberapa bulan lagi, rakyat dibingungkan dengan isu dan photo calon walikota yang mulai menghiasi fasilitas umum terutama dipinggiran kota. Lantas masyarakat bertanya-tanya itu photo siapa, anaknya siapa, kuliahnya di mana, dan apa peran yang telah dilakukan dalam mengangkat martabat rakyat?.

Fenomana diatas paling tidak menarik untuk dicermati sehingga muncul pertantanyaan, apakah dengan menebar photo dan baliho di perkampungan akan menuai hasil yang diharapkan? Terlebih photo dan baliho tersebut dikemukakan selogan yang cukup “fantastis” yang seakan-akan dengan menjadi walikota satu-satunya cara untuk memperjuangkan nasib rakyat.

Jika saja niatan berjuang untuk merubah nasib rakyat itu di munculkan sejak dahulu? mungkin masyarakat tidak akan terlalu banyak bertanya-tanya. Tapi hemat penulis fenomena ini tak masalah dan dipandang normal, mungkin ini ciri berjuang pada era modern? Sebagaimana pemikirannya Georg Simmel, " bahwa Modernitas memberi keuntungan pada umat manusia.

Dalam konteks ini Modernitas diartikan sebagai tanda kekuatan instrinsik manusia yang sebelumnya tidak diwujudkan. Oleh karenanya kandidat walikota yang maju pada pemilukada akan berjuang untuk mengukur kekuatan dirinya dan melihat sampai sejauhmana dukungan masyarakat terhadapnya. Weber berpandangan bahwa modernitas tidak dapat lepas dari rasionalitas formal, Artinya jika saja seseorang (kandidat red) telah mengorbankan tenaga, fikiran, harta dan kekayaan tentu telah terbayangkan secara terukur menurut perhitungan rasionalitasnya jika setelah tujuannya tercapai maka akan memperoleh modal simbolik (yakni: prestise, dan jabatan) yang memiliki gengsi setinggi sekian, dan memiliki harta sejumlah sekian. Inilah rasionalitas formal yang dimaksud.

Kalkulasi perhitungan seperti ini masyarakat awam pasti mengerti, meskipun mereka tidak mampu menghitungnya. Namun saat ini masyarakat bingung memilih kandidat walikota cilegon kedepan yang benar-benar ikhlas memperjuangkan nasibnya.

Pentingnya pemimpin
Dalam ajaran Islam aspek kepemimpinan memiliki kedudukan yang penting, karena maju dan mundurnya suatu daerah (daulah) ditentukan oleh pemimpinnya. Pemimpin yang mendesain masa depan dan pemimpin pula yang menggerakan masyarakatnya untuk menggapai suatu cita-cita yang telah disepakati. Tentunya bukan hanya berlaku pada level politik, Namun menyeluruh dalam berbagai level kehidupan.

Peradaban Islam menggoreskan bahwa pada saat Nabi Muhammad wafat, langkah pertama yang ditempuh ummat Islam waktu itu adalah menentukan siapa pengganti Nabi. Maka tak heran jika dalam tradisi politik Sunni Ada dalil yang radikal yakni "Memilih pemimpin yang zalim lebih baik dari pada satu hari tidak ada pemimpin”. Tentu saja dalil ini mengisyaratkan betapa sentral kedudukan pemimpin dalam keberlangsungan hidup umat manusia.

Dengan demikian pemilukada yang akan digelar di Cilegon merupakan sarana rekrutmen calon-calon pemimpin masa depan, seyogyanya sebagai warga masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memilih pemimpin yang cerdas yang mampu membawa masyarakatnya kearah kemajuan, mandiri demoktaris dan berkeadilan. Tentu saja pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin yang menjadi aset daerah bukan sebaliknya menjadi beban daerah

Kriteria Pemimpin
Cilegon kedepan akan dihadapkan pada agenda besar yakni melanjutkan pembangunan, penataan pemerintahan yang bersih dan penguatan demokratisasi. Dengan demikian pemimpin yang diperlukan adalah pemimpin yang sama sekali tidak berbenturan dengan nilai-nilai modern. Artinya pemimpin Cilegon kedepan harus memiliki sifat kepemimpinan universal yang bermuara pada suatu nilai, yakni seorang pemimpin mampu memberi motivasi dan manfaat terhadap masyarakat yang dipimpinnya.

Dengan modal kapasitas intelektualnya pemimpin seperti ini mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan praktek praktek organisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. Menurut Bryman, tipe pemimpin seperti ini akan mampu memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan bermasyarakat.

Dari nilai-nilai diatas pemimipin masa depan setidaknya memiliki dua sifat ideal. Pertama, seorang pemimpin harus dipilih dari yang aslah (dalam arti sederhananya lulus uji kelayakan dan kepatutan) tentu saja ia sebagai orang yang terbaik dalam berbagai hal di antara kandidat yang ada. Paling tinggi imannya, paling baik moralnya, paling mulya akhlaknya, paling mumpuni ilmu pengetahuannya, dan paling luas wawasannya dalam mengatasi masalah-masalah hidup, serta yang paling penting terampil memanage wilayah yang dipimpinnya.

Kedua, Jika saja kriteria diatas tidak diperoleh di antara kandidat yang ada, maka pilihlah kriteria yang di bawahnya, dan apabila hal tersebut juga tidak bisa diperoleh, pilihlah kandidat yang memiliki kekuatan jasmani dan rohani, yang cerdas dan mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Tentua ia harus yang dapat dipercaya, jujur, tulus dalam melaksanakan tugas yang diembannya.

Rasulullah saw.,bersabda "Barang siapa yang mengangkat seseorang untuk mengurusi perkara kaum muslimin, lalu mengangkat orang tersebut, sedangkan dia mendapatkan orang yang lebih baik dan lebih layak serta lebih sesuai dari orang yang telah diangkatnya maka dia telah berkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya." (Al-Hadis)

Merujuk pada Hadis ini tentunya masyarakat Cilegon tidak boleh sembarangan dalam memilih pemimpin. Apabila salah dalam memilih orang, berarti dosa bagi diri kita, dan berakibat berdosa pada masyarakat manakala pemimpin tersebut hanya mementingkan diri sendiri dan merugikan

Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika penulis memberikan masukan pada para kandidat yang akan maju pada pemilukada 2010 untuk menyebutkan lulusan mana, prestasi apa, sering ke mesjid mana, kalu perlu tuliskan di photo atau di baliho yang terpampang pinggir jalan. Karena menyebarkan riwayat hidup dalam kampanye politik jauh lebih penting daripada mencantumkan janji –janji manis.

Bagi masyarakat pemilih waspadalah, jangan-jangan yang akan kita pilih adalah seorang "preman" yang suka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Dan jika terpilih akan menjual aset-aset daerah untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Waspadalah...(tulisan ini terbit di Baraya Post Edisi Selasa 15/12/2009)

Selengkapnya...